GENERASI JURNALIS 80-AN YANG SADAR AKAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT

Gambar Gravatar

HorizontalNews.com | 31/12/2021 SAYA jumpa dan kumpul dengan dia di akhir 80an jelang 1990.
Meski dia tergolong muda, dia adalah atasan saya dalam manajemen keredaksian sebuah media nasional berskala besar. Pengertian atasan, bukan cuma dalam hal jabatan, tapi dalam kapasitas sesungguhnya, managerial dan intelektuitas.
Dia memang berotak cemerlang dan berhati sehingga ia mampu menerima pandangan orang lain (tentu yg fokus dan clear landasan pijaknya). Artinya dia tidak “asal bunyi” (asbun alias omdo).

Saya mau katakan, dia jurnalis sungguhan. Dia adalah jawaban atas pertanyaan: KOK ANDA MAU JADI JURNALIS?

Bacaan Lainnya

SEJAK 10 tahun lalu hingga kini dia penulis buku. Tulisannya diterima dan bertebaran di banyak koran-koran (bukan media online). Dia tak lagi menjadi jurnalis di suatu media. Saya acungi jempol, di usia yang belum 50 bagaimanapun ia diakui “sbg jurnalis yg intelektual”, meski bukan akademisi.

Secara materi kehidupannya biasa-biasa saja. Terkadang, istrinya juga masih kerap ngutang di warung sementara menunggu honor tulisannya yg bayarannya sudah tergolong tinggi (di atas Rp1,5 juta.) Untuk capai itu jangan lihat sekarang, tapi bagaimaana perjuangan dan konsistensinya menjalani hidup tanpa harus menyimpang.

SABAN bertemu, senantiasa kami segera terlibat diskusi. Tetapi, yang mengagumkan dari dia adalah meski lebih muda ketimbang saya, dengan rendah hati ia membuat saya terperangah karena ia mampu membawa aku untuk bersama-sama fokus dalam topik yg ia inginkan sumbangan pemikiranku.

DI masa kini, ketika media “mainstream” (cetak)8 mengecil dan menipis diiringi munculnya media-media berbasis teknologi maju dengan ciri menonjol “cepat saji”, saya bermimpi jurnalis lebih maju daripada dia dengan kemauan mengisi kapasitas seperti dia. Semangat berkapasitas tinggi!

KETIKA hal itu saya munculkan sebagi bahan untuk kami diskusikan, ia dengan segala kerendahan hati mengatakan, “InsyaAllah mimpi Abang itu jadi kenyataan. *Sebab, saat ini untuk memiliki media sendiri itu mudah dan murah, tinggal mereka mau tidak memperkaya profesi dengan kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk membaca masyarakat.* Bukan sekadar untuk diri sendiri,keluarga, dan kelompok.

KALIMATNYA yang terkahir itu, mengingatkan saya pada bukunya yang berjudul GENERASI BARU WARTAWAN INDUSTRI PERS INDONESIA. Bagian tulisannya yg relevan dalam buku itu adalah:
“…Kearifan bukan lagi semata-mata berkaitan dengan waktu, tetapi juga penyesuaian dan tanggap terhadap kemampuan berpikir masyarakat pembaca.” (2003: 5).

*JADI, bukan sekadar mengklaim diri sebagai jurnalis. Juga, bukan sekadar bisa menulis berita, apalagi menulis asal-asalan tanpa kenal tertib menulis jurnalistik.Juga, yg lebih parah kalau sampai hilang kemandirian termasuk sekadar copypaste sebuah rilis yang juga tak karuan tertib menulis.

Pada jurnalis itu, bergantung pentingnya kebaruan informasi yg terkait langsung kebutuhan masyarakat.

Tugas, jurnalis itu termasuk dalam katagori mencerdaskan, *bukan asal-asalan dan yg terpenting ditayangkan dan yg membaca jadi tambah bingung.

*Yah, begitulah secara substansi, sudah seharusnya bukan cuma mengulang-ulang pola saja, dan materinya saja yang beda. Itu pun tidak jelas. Monotone, tak ada kebaruan informasi sebagaimana yg dibutuhkan masyarakat.

(Imron Sadewo/Redaksi)

Komentar Facebook

Pos terkait